Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Khairuddin Simanjuntak, mengingatkan agar penanaman
pohon tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dilanjutkan dengan
perawatan secara berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan pemulihan hutan dan
lahan ditentukan oleh kemampuan tanaman untuk tumbuh dan memberikan manfaat
bagi lingkungan serta masyarakat.
Pesan ini disampaikan Khairuddin saat kegiatan Gerakan Penanaman Pohon untuk Pemulihan Hutan
dan Lahan di Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sundata Selatan, Kecamatan
Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Rabu (14/10).
Dalam kegiatan yang digelar
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kehutanan tersebut, sebanyak
1.100 batang pohon ditanam. Bibit yang disiapkan terdiri atas manggis, durian
montong, kayu manis, petai, dan sejumlah jenis tanaman lainnya.
Kegiatan ini merupakan bagian
dari peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat. Khairuddin
mengapresiasi gerakan tersebut, tetapi menegaskan bahwa keberhasilan
penghijauan tidak cukup diukur dari jumlah pohon yang ditanam.
“Pesan ambo satu saja,
setelah ditanam hari ini, tolong dirawat, jangan dibiarkan saja,” tegas
Khairuddin di hadapan peserta kegiatan.
Ia menjelaskan, pohon yang
dirawat dengan baik akan memberikan manfaat jangka panjang, mulai dari menjaga
keseimbangan ekosistem, melindungi sumber daya alam, hingga mendukung
keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Karena itu, Khairuddin
meminta pemerintah, pengelola hutan nagari, dan masyarakat bersama-sama
memastikan bibit yang telah ditanam mendapatkan perawatan serta pengawasan
berkala. Tanpa komitmen tersebut, upaya penghijauan dikhawatirkan tidak
memberikan hasil optimal.
“Di Hari Jadi Sumbar ke-81
ini, kita tidak sekadar menanam pohon, kita sedang menanam napas untuk anak
cucu kita,” ujar Khairudin yang juga Ketua Komisi II DPRD Sumbar tersebut.
Khairuddin juga mengaitkan
gerakan penghijauan tersebut dengan target Forest and Other Land Use
(FOLU) Net Sink 2030, yakni upaya menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan
lahan sebagai penyerap bersih emisi gas rumah kaca pada 2030.
Menurutnya, pencapaian target
tersebut membutuhkan aksi nyata, perencanaan yang terarah, serta keterlibatan
masyarakat secara konsisten. Oleh sebab itu, koordinasi antara pemerintah
provinsi, pemerintah kabupaten, instansi kehutanan, pemerintah nagari, lembaga
adat, dan kelompok masyarakat perlu terus diperkuat.
Ia menegaskan, partisipasi
masyarakat dalam pelestarian hutan tidak boleh berhenti ketika kegiatan
penanaman selesai. Keterlibatan warga harus berlanjut pada pemeliharaan
tanaman, pengawasan, dan perlindungan kawasan hutan.
Keberadaan LPHN Sundata
Selatan, lanjutnya, memiliki peran strategis dalam mendorong pengelolaan hutan
berbasis masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, kelestarian hutan
diharapkan dapat terjaga sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan warga
di sekitarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Pasaman, Joko Rifanto, yang mewakili
Bupati Pasaman, Ketua DPRD Kabupaten
Pasaman, Adel Nelfri Asfandi, Anggota Komisi II DPRD Sumbar, Ali Muda serta
unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Turut hadir sejumlah
perangkat daerah, unsur pemerintah kecamatan dan nagari, lembaga adat, LPHN
Sundata Selatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Pasaman, komunitas
lingkungan, organisasi masyarakat, serta instansi terkait lainnya.
Perwakilan Bupati Pasaman
menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap gerakan pemulihan hutan dan
lahan. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas instansi dan pengawasan
pascapenanaman agar bibit yang ditanam dapat tumbuh serta memberikan manfaat
nyata.
Dukungan serupa disampaikan
Ketua DPRD Kabupaten Pasaman, Adel Nelfri Asfandi. Ia menilai rehabilitasi
hutan dan lahan perlu dilaksanakan secara terencana dan tepat sasaran dengan
melibatkan pemerintah, lembaga kehutanan, lembaga adat, dan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung
pukul 08.00 hingga 11.30 WIB tersebut diawali dengan laporan ketua pelaksana
dan sambutan para pejabat, dilanjutkan dengan penanaman pohon secara serentak
serta ramah tamah.
Menutup sambutannya,
Khairuddin menyampaikan pantun yang menggambarkan harapan terhadap kelestarian
lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. “Hutan terjaga, rakyat sejahtera,
itulah harapan kito basamo.”
Bagi Khairuddin, penanaman
1.100 pohon di Sundata Selatan harus menjadi titik awal gerakan bersama menjaga
hutan. Perawatan dan pengawasan berkelanjutan menjadi kunci agar bibit yang
ditanam benar-benar tumbuh dan mendukung pemulihan lingkungan. (*)